top of page

Gelar Ketiga: Certified Human Resources Professional

  • syaraash
  • Oct 16, 2021
  • 4 min read

Sejak SMA, dunia dan pilihan-pilihan jangka panjangku bisa dibilang cukup berwarna. Aku anak IPA yang ikut ekskul debat yang notebene lebih sering bahas hukum dan isu sosial, ngewakilin sekolah buat lomba siswa berprestasi tapi ((almarhum) mantan) pacarku kapten futsal tukang nongkrong, ikut les persiapan SBMPTN IPA tapi cari kuliahan gamau yang ada mata kuliah fisikanya, kuliah tata kota tapi tenggelamnya di dunia SDM, sampe kerja pun sempet nyangsang jadi orang finance. It’s like life takes me to any directions just to see if I can get through the obstacles and contradictions, while at the same time I know what I want. I can say that I have never really been in my comfort zone.


Sekitar akhir Mei lalu, aku ngehubungin mentorku – senior beda jurusan yang udah kaya kakak sendiri, buat konsultasi soal langkahku selanjutnya. Waktu itu, kontrak kerjaku udah mau habis and I didn’t have any intention to lengthen it. Aku tahu apa yang aku mau, tapi aku gatau harus mulai dari mana. Dari obrolan singkat di lunch time hari kerja, beliau ngarahin aku buat ngecek program pelatihan & sertifikasi untuk HR: Certified Human Resources Professional. Setelah obrolan siang itu, beliau langsung kirim brosur dan beberapa file lain, termasuk form pendaftaran. Harga pelatihannya ga sedikit, tapi qadarullah alokasi tabunganku yang tadinya mau aku belikan sesuatu jumlahnya pas banget, bener-bener cuma lebih sedikit. Aku cerita hal ini ke temenku, dan dia bilang, mungkin sebenernya secara ga sadar aku udah mempersiapkan diri untuk ini. That may be something we consider as a luck, when preparation meets the chance at the right time. Pantesan sebelumnya aku selalu mengurungkan niat buat beli sesuatu itu sekalipun udah cek harga berkali-kali. Later did I know, sebenernya seniorku juga pernah share info pelatihan itu sekitar setahunan sebelumnya, but I guess that time was just not mine yet.


Setelah cek info ulang secara langsung ke panitia, akhirnya aku daftar. Sayangnya seniorku ga jadi daftar karena beberapa pertimbangan, padahal mungkin seru jugaaa kalo akhirnya bisa belajar bareng mentor, cuma ya mungkin belum waktunya.


Masuk pertengahan Juli, akhirnya training dimulai. Dalam satu batch itu, aku mungkin termasuk di Q1 secara umur, juga yang paling ga berpengalaman soal HR. Peserta yang lain at the very least pernah di bidang HR, yang udah pengalaman 2-3 tahun pun mereka suka sebut “baru”. Belum lagi ga sedikit bapak-ibu yang posisinya udah Direktur atau Manajer. Jadi ya merepresentasikan diri sebagai remahan rengginang adalah hal yang tidak terhindarkan. Seengganya sebagai remahan aku beneran garing.


Sisi positif yang paling aku syukuri adalah kondisi gelasku yang masih kosong di lingkungan yang padat pembelajaran. We tend to absorb more when we empty our glass, ga terpaku sama kondisi di mana kita tumbuh. Di sisi lain, aku juga bersyukur banget pernah ikut kelas PSDM pas LKMMD waktu kuliah, jadi cukup familiar sama beberapa istilah walaupun banyak juga yang aku browsing selama materi berlangsung. I really worked my a** off to catch up. I also learned so much from the questions, kaya bedah kasus. Walaupun ada masanya aku suka bete kalo ada yang terlalu berlarut-larut bahas kasusnya sendiri, jadi yang lain ga kebagian waktu di sesi itu. But still, I learned a lot.


Another big challenge beside catching up was the group project. It was obvious that our batch has quite the range of ages, tapi soal ini aku punya mindset bahwa di tahap ini kita semua adalah pembelajar. So I tried my best to balance antara berlaku santun mengingat aku adalah yang paling muda, tapi juga tetep bisa ngimbangin sesetara mungkin. Aku ga mau jadi free rider di kelompok cuma karena aku paling minim insight. On the other hand, beberapa yang memperhatikan mungkin tau ada masanya aku cukup meledak karena dinamika kelompok yang memang udah hukum alamnya. Hehe.


Aku cukup bangga dengan diriku sendiri karena berhasil melewati tiap ujian blok tanpa diskusi jawaban sama yang lain, termasuk yang ngerjainnya beneran dari waktu dhuha sampe azan isya. Hasilnya? Still a lot to improve, tapi ga ada yang satupun modul yang harus remedial :)) semua nilai blok aman, termasuk nilai presentasi makalah kelompok yang aku kejar dengan kondisi abis vaksin dan (terpaksa) dua malam lewat tanpa tidur cukup karena udah telanjur volunteer buat ngedit akhir. Kacau banget wkwk


Overall, I know my perfectionist side keeps telling me that I could’ve done better, tapi aku cukup puas di sesi banting setir kali ini. Aku sengaja submit nama dengan bubuhan gelar akademik supaya aku inget bahwa mungkin aku ga bakal ngerasain perjalanan ini kalo ga ada di sana; mulai dari bisa ikut LKMMD yang punya kelas peminatan, ngebangun karir organisasi di bidang SDM, sampe ketemu temen-temen diskusi yang luar biasa, termasuk mentorku. Aku selalu bangga jadi anak teknik.


Ah, hampir lupa.

Beberapa hari sebelum graduation, aku sempet sedikit update kehidupan sama temenku. Aku bilang rasanya lucu juga punya title “Certified HR Professional” saat aku ga punya pengalaman profesional apapun di bidang itu. Cuma lagi-lagi aku agak bersyukur karena kondisi ini bikin aku lebih gampang ngendaliin rasa overproud, apalagi sertifikasi yang umum buat temen-temenku ya sertifikasi planner, bukan HR wkwk. So yeah, aku bilang ke temenku aku menganggap ini kaya kuliah aja. Ini jadi modalku buat di perjalanan selanjutnya, dan aku ga ada rencana banting setir lagi.


To sum this up, sebagaimana becandaan temenku, sekarang aku punya tiga gelar: SH, SPWK, CHRP.


Iya, aku dari lahir udah SH: Syarafina Hanifah :)))

 
 
 

Recent Posts

See All
I Remember The Songs

“While I'm, here I am. I'm standin' still stare at you only. Everythin' gets blurry,” I remember that feeling when I walked across the...

 
 
 
The Coffee Date (6): Eventually

Flo checked her phone the moment it rang. A location was sent, her next coffee date with Arn. Or if she could call it one. She took a...

 
 
 
The Coffee Date (5): Distance

Flo brought in the package just right after she arrived home. She put her coffee aside and smiled. It has been a while since she started...

 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post
  • Instagram
  • Twitter
  • LinkedIn

©2021 by littlerealm. Proudly created with Wix.com

bottom of page